Prabowo di Davos: Kekuasaan untuk Membuat Rakyat Miskin Tersenyum
- account_circle Ival
- calendar_month Jum, 23 Jan 2026

Zurich – Di hari keempat World Economic Forum 2026, Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang menekankan kekuasaan harus berpihak pada rakyat miskin dan lemah. Menurut pengamat politik Denny JA, pidato ini jarang terdengar di forum elite global.
“Kekuasaan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi atau politik, tapi tentang memastikan yang paling lemah tetap tersenyum,” kata Denny JA dalam tulisannya terkait Pidato Prabowo Subianto yang diunggah di FB miliknya.
Prabowo menekankan bahwa tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian, tidak ada pertumbuhan tanpa stabilitas, dan tidak ada stabilitas tanpa kepercayaan. Ia menyoroti kredibilitas sebagai aset nasional paling mahal yang membutuhkan puluhan tahun untuk dibangun kembali.
Pidato itu juga menyoroti kebijakan pro-rakyat pemerintahannya, termasuk program makan bergizi gratis bagi anak-anak dan lansia, pemeriksaan kesehatan gratis seumur hidup, renovasi sekolah, dan penyediaan panel digital hingga pelosok desa. Menurut Denny JA, program ini bukan populisme, tetapi investasi produktivitas.
Selain itu, Prabowo menekankan pentingnya supremasi hukum. Ia menyinggung korupsi dan praktik ekonomi keserakahan (greedynomics), menutup ribuan tambang ilegal, mencabut izin secara tegas, dan menyita lahan ilegal.
“Ukuran kekuatan negara bukan hanya cadangan devisa, tetapi apakah yang paling lemah tetap memiliki alasan untuk tersenyum,” ujar Denny JA.
Filosofi Prabowo sejalan dengan pemikiran Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) dan Paul Collier dalam The Bottom Billion (2007), yang menekankan perlunya memperkuat rakyat termiskin agar kemiskinan tidak menurun lintas generasi.
Menurut Denny JA, visi ini menuntut disiplin birokrasi, keberanian politik, dan pengawasan publik. “Selama rakyat miskin dan lemah masih tersenyum, masa depan bangsa belum hilang,” pungkasnya.
- Penulis: Ival
- Editor: TCON
- Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DPmvBPgnk/
