Danantara dan Bank Emas: Mimpi Kebangkitan Nusantara di Era Jokowi-Prabowo
- account_circle Ival
- calendar_month Sel, 1 Jul 2025
Sudah terlalu lama bangsa ini berjalan di jalur ekonomi yang dirancang bukan untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kepentingan segelintir elite—baik di dalam maupun luar negeri. Sistem keuangan dan perbankan yang kita jalani hari ini sebagian besar dibangun di atas utang, bunga, dan permainan angka. Padahal, semua kita tahu: sistem ini sering kali menjauhkan bangsa dari kedaulatan sejati.
Sejarah kita penuh bukti: bagaimana Indonesia pernah dipaksa tunduk pada kekuatan asing melalui skema utang, bagaimana krisis moneter 1997-1998 menggulung ekonomi rakyat, dan bagaimana sumber daya alam kita acap kali hanya menjadi bancakan kekuatan modal, bukan untuk kesejahteraan bersama¹.
Di sinilah muncul gagasan-gagasan baru yang layak kita renungkan. Salah satunya adalah pembentukan Daya Agananta Nusantara (Danantara) dan Bank Emas. Dua lembaga yang benar-benar diwujudkan, bisa menjadi langkah awal membangun kemandirian ekonomi bangsa.
Danantara: Aset Bangsa Dikelola untuk Rakyat
Danantara, yang bisa diartikan sebagai “daya kekuatan Nusantara”, dibayangkan menjadi wadah baru untuk mengelola kekayaan bangsa. Selama ini, begitu banyak aset negara yang tak termanfaatkan dengan baik: lahan tidur, gedung mangkrak, aset sitaan koruptor, hingga tambang yang tidak optimal².
Sering kali, aset ini justru menjadi beban negara atau malah diam-diam dimanfaatkan segelintir oknum.
Melalui Danantara, aset-aset ini dikumpulkan dalam satu pengelolaan profesional. Dikelola bukan untuk rente segelintir elite, melainkan untuk menghasilkan pendapatan negara, mendukung pembangunan, dan mensejahterakan rakyat.
Danantara juga diharapkan dapat menjadi alternatif pembiayaan pembangunan, sehingga negara tidak selalu bergantung pada utang luar negeri atau dana asing yang penuh syarat³.
Bank Emas: Kembali ke Aset Riil
Layanan Bank Emas lahir dari keprihatinan pada sistem uang kertas (fiat money) yang nilainya terus tergerus inflasi, mudah dimanipulasi, dan rentan menjadi alat spekulasi. Sejak sistem Bretton Woods runtuh pada 1971, uang di seluruh dunia praktis tidak lagi berbasis emas atau komoditas riil⁴.
Akibatnya, sistem keuangan global sangat rentan krisis, dan rakyat kecil sering jadi korban.
Bank Emas dibayangkan sebagai lembaga yang:
• Menghimpun simpanan emas dari rakyat dan negara.
• Memberikan kredit berbasis emas atau komoditas nyata.
• Menjadi penopang nilai tukar, sehingga lebih stabil dan tak mudah dipermainkan pasar global.
Bank Emas bukan berarti kita kembali ke zaman barter. Tapi ini upaya mengembalikan keuangan kita ke dasar yang lebih kuat, berbasis aset riil, bukan sekadar angka di layar komputer⁵.
Bukan Menggantikan BI, Tapi Melengkapi
Tentu saja, Danantara dan Bank Emas bukan untuk menggantikan Bank Indonesia (BI). BI tetap penting sebagai bank sentral, penjaga stabilitas moneter dan sistem pembayaran. Tapi kita perlu alat tambahan. BI bagai jantung yang memompa darah sistem keuangan. Danantara dan Bank Emas ibarat paru-paru dan tulang: menopang tubuh ekonomi agar kuat, sehat, dan tahan banting.
Jika Danantara mengelola kekayaan bangsa, dan Bank Emas menopang nilai tukar berbasis komoditas riil, maka sistem ekonomi kita akan lebih tahan dari guncangan. Kita tidak mudah goyah hanya karena gejolak dolar, atau permainan spekulan global.
Skenario Kebangkitan Nusantara
Semua ini bukan mimpi kosong. Gus Dur dulu sudah bicara tentang pentingnya kedaulatan ekonomi sebagai syarat kemerdekaan sejati⁶. Jokowi, dengan hilirisasi tambang, swasembada pangan, dan pembangunan infrastruktur, sejatinya sudah membuka jalan ke arah sana.
Prabowo, dengan narasi kemandirian pangan dan energi, melanjutkan mimpi ini.
Danantara dan Bank Emas bisa menjadi bagian dari skenario besar kebangkitan Nusantara: membangun ekonomi yang berdiri di atas kaki sendiri, tak lagi jadi korban rente, dan tak terus menerus mengemis pada kekuatan asing.
Penutup: Langkah Kecil, Jalan Panjang
Danantara dan Bank Emas hanyalah alat. Yang penting adalah niat dan pengawasan kita bersama. Tanpa itu, lembaga ini bisa saja jadi alat rente model baru. Tapi bila dijalankan dengan benar, dia bisa jadi langkah kecil menuju mimpi besar: kebangkitan Nusantara yang sejati.
Sudah waktunya kita membangun sistem kita sendiri. Sistem yang berpihak pada rakyat banyak. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?
Catatan Kaki
1️⃣ Joseph Stiglitz, Globalization and Its Discontents, W.W. Norton, 2002. 2️⃣ Laporan BPK RI tentang pengelolaan aset negara dan aset sitaan, https://www.bpk.go.id. 3️⃣ Naomi Klein, The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism, Metropolitan Books, 2007. 4️⃣ John Perkins, Confessions of an Economic Hitman, Berrett-Koehler Publishers, 2004. 5️⃣ FATF, International Standards on Combating Money Laundering and the Financing of Terrorism & Proliferation, 2012 (updated 2023), https://www.fatf-gafi.org. 6️⃣ Lihat berbagai pidato Gus Dur tentang ekonomi kerakyatan, misalnya dalam Gus Dur: The Authorized Biography, Greg Barton, Equinox, 2002.
- Penulis: Ival
