Breaking News
Beranda » Oase » Ramadan, Rahmat, dan Laku Pengabdian: Hikmah Prof. Djohermansyah Djohan di Usia Purnatugas

Ramadan, Rahmat, dan Laku Pengabdian: Hikmah Prof. Djohermansyah Djohan di Usia Purnatugas

  • account_circle Beng Aryanto
  • calendar_month Sen, 2 Mar 2026

Bulan Ramadan bagi Prof. Djohermansyah Djohan bukan sekadar ritual tahunan. Ia memaknainya sebagai ruang rahmat, jeda refleksi, dan ladang pengabdian yang tak pernah selesai.

Dalam perbincangan Hikmah Ramadan bersama Radio Elshinta, 2 Maret 2026 di Jakarta, guru besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri itu berbagi pengalaman spiritual yang sederhana, hangat, dan membumi.

Ramadan, ujarnya, adalah bulan ketika rahmat dikucurkan, ampunan dibukakan, dan manusia diberi kesempatan memperbarui diri.

Pengalaman paling membekas baginya terjadi pada 1980, ketika di hari keempat puasa ia dikaruniai anak pertama. “Itu rahmat terbesar dalam hidup saya,” kenangnya.

Ramadan, bagi Prof. Djo, bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga penanda perjalanan hidup yang penuh syukur.

Ia juga mengingat pengalaman spiritual lain: beribadah di Tanah Suci pada bulan Ramadan dan berkesempatan mencium Hajarul Aswad.

Bagi seorang akademisi dan mantan birokrat, pengalaman itu bukan sekadar capaian religius, melainkan pengingat bahwa jabatan dan peran publik tetap harus berpulang pada kesadaran sebagai hamba.

Ramadan Setelah Purnatugas

Sebagai mantan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (2010–2014), Ramadan di masa aktif birokrasi tentu berbeda. Dahulu, ia harus berpacu dengan waktu, terjebak kemacetan Jakarta menjelang berbuka, bahkan kerap berbuka di perjalanan.

Kini, sebagai akademisi senior yang telah purna tugas struktural, ia lebih leluasa mengatur ritme.

Subuh dimulai dengan mengaji. Siang hingga sore diisi aktivitas akademik dan melayani diskusi publik. Malam hari diupayakan tetap untuk keluarga dan tarawih berjamaah di masjid dekat rumah.

Namun purnatugas bukan berarti berhenti mengabdi. Isu-isu pemerintahan daerah tetap membuatnya dicari media. Bahkan di tengah tarawih pun, panggilan diskusi publik bisa datang.

Ia menyikapinya dengan tenang. “Itu juga bagian dari kebaikan. Kita jalani dengan ikhlas,” tuturnya.

Di situlah Ramadan menemukan relevansinya: menyeimbangkan ibadah personal dengan tanggung jawab sosial.

Mengelola Sepi, Merawat Silaturahmi

Ramadan kali ini ia jalani berdua bersama istri. Anak dan cucu telah memiliki kehidupan masing-masing. Rasa sepi tentu ada, terutama saat sahur dan berbuka.

Namun, ia mengatasinya dengan memperluas makna keluarga. Kerabat dan sahabat diundang berbuka bersama.

Lingkungan masjid menjadi ruang silaturahmi. Dengan begitu, rumah tetap hidup, dan Ramadan tetap terasa hangat.

Ia mencontohkan bagaimana spiritualitas tidak berhenti pada relasi vertikal, tetapi juga diperkuat oleh jejaring sosial. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat kebersamaan.

Tradisi, Identitas, dan Syukur

Sebagai putra Sumatera Barat, Ramadan juga sarat tradisi. Sehari menjelang puasa, keluarga melakukan “merendang”—memasak rendang khas keluarga. Hari pertama puasa, hidangan itu menjadi simbol syukur dan kebersamaan.

Menu berbuka sederhana namun sarat makna: tiga butir kurma dan teh manis hangat. Sesekali, teh talua—minuman khas Minangkabau—hadir di akhir pekan sebagai nostalgia kampung halaman.

Tradisi seperti itu, bagi Prof. Djo, bukan sekadar soal rasa. Ia adalah pengikat identitas dan pengingat akar budaya.

Hikmah yang Menyejukkan

Dari kisah-kisahnya, Ramadan tampak bukan hanya sebagai bulan ibadah individual, melainkan momentum merawat keseimbangan: antara tugas publik dan keluarga, antara tradisi dan modernitas, antara aktivitas dan kontemplasi.

Dalam usianya yang matang, Prof. Djohermansyah memperlihatkan bahwa pengabdian tidak berhenti saat jabatan selesai. Ia hanya berubah bentuk.

Ramadan menjadi pengingat bahwa rahmat Allah hadir dalam kelahiran anak, kesempatan beribadah, keluarga yang sederhana, hingga panggilan berbagi ilmu di tengah malam.

Sejuk, bijak, dan membumi—itulah Ramadan yang ia jalani. Bukan Ramadan yang hiruk-pikuk, melainkan Ramadan yang hening namun produktif. Sebuah teladan bahwa spiritualitas sejati justru menemukan maknanya dalam keseharian yang dijalani dengan ikhlas dan tanggung jawab.

  • Penulis: Beng Aryanto
  • Editor: TCON

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tidak Berutang Tapi Ditagih dan Disita Harta Pribadi, Maruarar: Gimana Kalau Begini?

    Tidak Berutang Tapi Ditagih dan Disita Harta Pribadi, Maruarar: Gimana Kalau Begini?

    • calendar_month Kam, 29 Mei 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Maruarar Siahaan, mantan Hakim Konstitusi periode 2003-2008, tensinya agak naik ketika menjadi saksi ahli di uji materi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 49 Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), ketika mengetahui adanya salinan kasasi yang tidak terdaftar di Mahkamah Agung, digunakan sebagai dasar menagih dan menyita harta pribadi pemohon uji materi, Andri Tedjadharma. […]

  • Danantara dan Bank Emas: Mimpi Kebangkitan Nusantara di Era Jokowi-Prabowo

    Danantara dan Bank Emas: Mimpi Kebangkitan Nusantara di Era Jokowi-Prabowo

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Ival
    • 0Komentar

    Sudah terlalu lama bangsa ini berjalan di jalur ekonomi yang dirancang bukan untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kepentingan segelintir elite—baik di dalam maupun luar negeri. Sistem keuangan dan perbankan yang kita jalani hari ini sebagian besar dibangun di atas utang, bunga, dan permainan angka. Padahal, semua kita tahu: sistem ini sering kali menjauhkan bangsa dari […]

  • Hersubeno Arief, Siapa Dia?

    Hersubeno Arief, Siapa Dia?

    • calendar_month Sel, 29 Apr 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Hersubeno Arief dikenal sebagai sosok yang cukup berani melantangkan suara tentang berbagai isu yang terjadi di masyarakat, terutama politik. Namun, tak jarang soal hukum dan ekonomi. Suara itu dia sampaikan melalui podcast dan channel youtube-nya bernama Hersubeno Poin. Apa yang dia sampaikan lugas dan tegas. Ini bisa dilihat dari judul-judul yang dibuatnya. Seperti contohnya.. klik  […]

  • PT HighScope Indonesia dan YPPBA  Diperintah PN Jaksel Bayar Kerugian Rp8,9 Miliar

    PT HighScope Indonesia dan YPPBA Diperintah PN Jaksel Bayar Kerugian Rp8,9 Miliar

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Tolak Gugatan PT HighScope Indonesia dan YPPBA, Menangkan YBTA dalam Sengketa Merek dan Lisensi Sekolah Jakarta, 6 November 2025 — Pengadilan Negeri Jakarta Selatan secara tegas menolak seluruh gugatan yang diajukan Yayasan Perintis Pendidikan Belajar Aktif (YPPBA) dan PT HighScope Indonesia terhadap Yayasan Bina Tunas Abadi (YBTA) dalam perkara perdata No. […]

  • Adanya Kasasi Palsu dan Pelanggaran Kode Etik Hakim Dilayangkan ke Komisi Yudisial

    Adanya Kasasi Palsu dan Pelanggaran Kode Etik Hakim Dilayangkan ke Komisi Yudisial

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Jakarta, 30 April 2025 – Andri Tedjadharma, pemegang saham dan komisaris Bank Centris Internasional (BCI), melaporkan adanya putusan kasasi palsu dan pelanggaran kode etik hakim ke Komisi Yudisial Republik Indonesia. Laporan ini terkait dengan beberapa putusan pengadilan, termasuk adanya Putusan Mahkamah Agung No. 1688 K/Pdt/2003 yang dipastikan palsu, Putusan Pengadilan Negeri No. 171/Pdt.G/2024/PN.Jkt.Pst, Putusan Pengadilan […]

  • Lelang Kapal MT Arman 114 Sepi Peminat, Tidak Ada Penawaran Masuk

    Lelang Kapal MT Arman 114 Sepi Peminat, Tidak Ada Penawaran Masuk

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Batam – Proses lelang kapal super tanker MT Arman 114 dan muatan Light Crude Oil yang digelar melalui situs lelang.go.id berakhir tanpa pemenang. Hingga batas waktu penutupan pada Selasa (2/12/2025) pukul 14.00 WIB, tidak ada satu pun peserta yang mengajukan penawaran. Kepala Bidang Hukum dan Informasi KPKNL Batam, Rahmat, menjelaskan bahwa panitia telah melaksanakan seluruh […]

expand_less