Breaking News
Beranda » Terkini » Bukan Musuh Kekuasaan, Pers Cermin yang Tak Selalu Menyenangkan

Bukan Musuh Kekuasaan, Pers Cermin yang Tak Selalu Menyenangkan

  • account_circle Beng Aryanto
  • calendar_month Kam, 16 Apr 2026

Pers sejatinya pilar keempat demokrasi. Penjaga kekuasaan agar tak menyimpang. Kekuasaan yang bekerja untuk kesejahteraan seluruh rakyat dan kemajuan bangsa. 

Ketegangan antara Majalah Tempo dan Partai NasDem seharusnya tidak dibaca sebagai konflik biasa antara media dan partai politik.

Ia adalah potret yang lebih dalam: bagaimana kekuasaan merespons kritik, dan bagaimana pers menjaga marwahnya sebagai pilar demokrasi.

Dalam demokrasi, pers bukan sekadar penulis berita. Ia adalah institusi yang diberi mandat oleh sejarah reformasi untuk menjadi pengawas kekuasaan.

Mandat itu ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers—produk politik penting era B. J. Habibie—yang meletakkan pers sebagai bagian dari kedaulatan rakyat.

Namun, mandat besar selalu datang dengan risiko besar: tidak disukai kekuasaan.

Ketika Kritik Dibalas Reaksi, Bukan Koreksi

Jika sebuah partai politik merasa dirugikan oleh pemberitaan, jalan yang tersedia dalam negara hukum bukanlah reaksi emosional, apalagi serangan balik opini.

Jalannya jelas: hak jawab, hak koreksi, dan mediasi melalui Dewan Pers.
Di sinilah persoalan menjadi menarik—sekaligus mengkhawatirkan.

Ketika mekanisme formal diabaikan, yang muncul bukan lagi perdebatan sehat, melainkan pertarungan persepsi di ruang publik.

Ini berbahaya, karena publik dipaksa memilih tanpa disuguhi proses klarifikasi yang beradab.

Padahal, jika pers diposisikan sebagai pilar keempat demokrasi, maka respons terhadapnya pun harus setara: institusional, bukan reaksional.

Pers Juga Bisa Salah, Tapi Tidak Boleh Dibungkam
Harus diakui, pers bukan lembaga suci.

Ia bisa keliru, bisa bias, bahkan bisa tergelincir dalam framing yang tidak adil. Prinsip cover both sides bukan sekadar jargon, melainkan fondasi etik.

Jika Majalah Tempo dalam pemberitaannya tidak memenuhi prinsip verifikasi dan keberimbangan, maka kritik terhadapnya bukan hanya sah—tetapi perlu.

Namun, ada garis yang tidak boleh dilampaui.
Mengoreksi pers bukan berarti melemahkan kebebasan pers.

Kritik terhadap media harus diarahkan untuk memperbaiki, bukan membungkam. Ketika kritik berubah menjadi tekanan, atau bahkan ancaman menggunakan instrumen hukum seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, maka yang terancam bukan hanya media—tetapi demokrasi itu sendiri.

Demokrasi Diuji di Titik Ini
Konflik seperti ini selalu menjadi ujian: bukan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling dewasa dalam menyikapinya.
Partai politik, sebagai bagian dari kekuasaan, seharusnya memberi teladan dalam menghormati mekanisme hukum dan etik. Jika merasa dirugikan, tempuh jalur resmi.

Dorong transparansi. Libatkan lembaga yang memang didesain untuk itu.Sebaliknya, pers juga harus bercermin.

Kebebasan tanpa disiplin etik hanya akan menggerus kepercayaan publik. Dan tanpa kepercayaan, pers kehilangan kekuatannya.

Cermin Itu Mungkin Retak, Tapi Jangan Dihancurkan
Apa yang terjadi antara Tempo dan NasDem pada akhirnya adalah hubungan klasik antara cermin dan wajah yang bercermin.

Tidak semua yang terlihat menyenangkan. Bahkan seringkali menyakitkan.

Namun, solusi atas bayangan yang tidak disukai bukanlah memecahkan cermin.

Jika cermin itu retak, perbaiki. Jika buram, bersihkan.

Tapi jika ia masih memantulkan realitas, maka yang perlu dilakukan adalah memahami, bukan menyerang.

Karena dalam demokrasi yang sehat, pers tidak dituntut untuk menyenangkan kekuasaan.
Ia dituntut untuk jujur kepada publik.

  • Penulis: Beng Aryanto
  • Editor: TCON

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rehab Rumah Dinas Ketua DPRD Empat Lawang Sentuh Rp1,5 Miliar, KPK Diminta Turun

    Rehab Rumah Dinas Ketua DPRD Empat Lawang Sentuh Rp1,5 Miliar, KPK Diminta Turun

    • calendar_month Ming, 19 Apr 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Rehab Rumah Dinas Ketua DPRD Empat Lawang Sentuh Rp1,5 Miliar, CBA Minta KPK Turun Tangan Sorotan tajam tertuju pada anggaran rehabilitasi Rumah Dinas Ketua DPRD Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, yang pada tahun 2025 menelan anggaran hingga lebih dari Rp1,5 miliar. Center For Budget Analysis (CBA) menilai besarnya anggaran tersebut tidak wajar dan meminta Komisi […]

  • CBA Minta Kejati Sumsel Selidiki Anggaran Karpet di Kabupaten Empat Lawang

    CBA Minta Kejati Sumsel Selidiki Anggaran Karpet di Kabupaten Empat Lawang

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Karpet Rp400 Juta di Setda Empat Lawang Disorot. Anggaran pengadaan karpet di lingkungan Pemerintah Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, menjadi sorotan tajam. Melalui Dinas Sekretariat Daerah (Setda), pada tahun anggaran 2026 disebut dialokasikan dana sebesar Rp400 juta hanya untuk pembelian karpet baru. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai besarnya anggaran […]

  • Andri Tedjadharma Sebut Thomas Djiwandono Layak Jadi Deputi Gubernur BI

    Andri Tedjadharma Sebut Thomas Djiwandono Layak Jadi Deputi Gubernur BI

    • calendar_month Jum, 23 Jan 2026
    • account_circle Ival
    • 0Komentar

    Andri Tedjadharma menilai Thomas Djiwandono layak menjadi Deputi Gubernur BI berdasarkan kapasitas dan rekam jejak, bukan faktor keluarga. Jakarta – Pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai layak dan patut dipertimbangkan. Penilaian tersebut disampaikan oleh Andri Tedjadharma berdasarkan kapasitas, rekam jejak profesional, serta pengalaman Thomas di sektor keuangan, bukan karena latar belakang […]

  • Pahlawan di Balik Layar: Kisah Tiga Perempuan yang Membawa UKM Indonesia ke Dunia

    Pahlawan di Balik Layar: Kisah Tiga Perempuan yang Membawa UKM Indonesia ke Dunia

    • calendar_month Kam, 8 Mei 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Di balik hiruk-pikuk ekonomi dan politik nasional, ada cerita yang jarang terdengar. Cerita tentang tiga perempuan tangguh yang tanpa banyak sorotan kamera, telah membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Mereka adalah Raslina Rasidin, Ningsih, dan Vina—pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang telah menekuni bidangnya tiga dekade. Belum banyak yang tahu, mereka telah menjajakan produk-produk lokal […]

  • Tersangka Koruptor Kakap Diberi Tahanan Rumah, Prof Djo: KPK Lemah Tak Berdaya

    Tersangka Koruptor Kakap Diberi Tahanan Rumah, Prof Djo: KPK Lemah Tak Berdaya

    • calendar_month Sel, 24 Mar 2026
    • account_circle Beng Aryanto
    • 0Komentar

    Jakarta – Latar belakang panjang dalam dunia pemerintahan dan antikorupsi menjadi fondasi kuat bagi pandangan kritis Prof. Djohermansyah Djohan dalam membaca dinamika hukum dan tata kelola pemerintahan hari ini. Guru Besar IPDN itu bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga praktisi mumpuni, karena ia pernah berada di lingkaran strategis kekuasaan—mulai dari Deputi Politik Wakil Presiden Jusuf […]

  • Utang PLN Tembus Rp804 Triliun, CBA Minta Prabowo Evaluasi Dirut

    Utang PLN Tembus Rp804 Triliun, CBA Minta Prabowo Evaluasi Dirut

    • calendar_month Sen, 25 Mei 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Utang PLN Tembus Rp804 Triliun, CBA Minta Prabowo Evaluasi Dirut Darmawan PrasodjoJakarta — Sorotan terhadap kinerja PT PLN (Persero) kembali menguat setelah utang perusahaan listrik negara tersebut disebut terus mengalami kenaikan signifikan dalam dua tahun terakhir. Kondisi itu diperparah dengan terjadinya pemadaman listrik berulang di sejumlah daerah, termasuk gangguan sistem kelistrikan di Sumatera yang belakangan […]

expand_less