PT Pelita Air Rugi USD 20 Juta, Direksi Tetap Terima Tantiem
- account_circle TCON
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026

Jakarta — PT Pelita Air Service (PAS), anak usaha PT Pertamina (Persero), mencatat kerugian sebesar USD 20,1 juta pada tahun buku 2023, namun jajaran direksi perusahaan penerbangan milik negara tersebut tetap menerima tantiem dan remunerasi.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengungkapkan, kerugian PT PAS pada 2023 mencapai USD 20.107.160, sementara laba perusahaan pada 2024 hanya USD 5.914.075, sehingga tidak mampu menutup kerugian tahun sebelumnya.
“Kerugian 2023 sangat besar dan tidak tertutupi oleh laba 2024 yang hanya sekitar USD 5,9 juta,” kata Uchok Sky dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).
PT Pelita Air Service saat ini mengoperasikan 12 unit pesawat dan hampir seluruh sahamnya dimiliki oleh PT Pertamina, yakni 828.744 lembar saham atau 99,997 persen, sementara sisanya dimiliki PT Pertamina Pedeve Indonesia.
Meski perusahaan merugi, CBA menyoroti kebijakan remunerasi manajemen PT PAS. Uchok Sky menyebutkan, Direktur Utama PT PAS Dendy Kurniawan tetap menerima tantiem sebesar Rp808.886.154 serta remunerasi Rp131.444.000.
“Perusahaan rugi, tapi Direksi tetap mendapat tantiem. Ini menimbulkan pertanyaan serius soal keadilan dan tata kelola,” ujarnya.
CBA menilai, dalam kondisi keuangan negatif, seharusnya direksi dan komisaris melakukan pengorbanan, termasuk pemotongan atau penundaan remunerasi, sebagai bentuk tanggung jawab manajerial.
Uchok juga mendesak Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri, yang menjabat sejak 4 November 2024, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja anak usaha yang terus merugi.
“Jika anak perusahaan tidak menunjukkan perbaikan dan justru membebani induk, maka Direksi dan Komisarisnya perlu diganti,” tegasnya.
Sorotan terhadap PT Pelita Air Service kembali membuka perdebatan publik mengenai konsistensi antara kinerja keuangan BUMN dan pemberian kompensasi kepada manajemennya.
- Penulis: TCON
