SBN Bisa Cair 50 Persen! BI Terancam Dirush Bank-Bank Nasional
- account_circle TCON
- calendar_month Kam, 13 Nov 2025
- visibility 101

Jakarta — Ancaman krisis baru mengintai pemerintahan Prabowo-Gibran. Praktik bank dalam bank di Bank Indonesia yang dulu terbongkar lewat audit BPK pada penyaluran BLBI, kini kembali disorot karena berpotensi mengguncang kepercayaan perbankan nasional.
Jika dibiarkan, efeknya bisa fatal: surat berharga negara (SBN) senilai Rp5.000 triliun—setara 50% dari total utang Indonesia—terancam dicairkan oleh bank-bank nasional.
Andri Tedjadharma, pemegang saham Bank Centris Internasional yang menjadi korban praktik tersebut, memperingatkan Presiden Prabowo agar tidak menutup mata. “Dulu, Pak Harto jatuh karena hal ini — makar ekonomi. Sampai sekarang, kemungkinan masih bercokol. Siapa yang bisa memastikan sudah tidak beroperasi?” tegas Andri.
Menurut Andri, praktik bank dalam bank di Bank Indonesia bisa memicu kepanikan sistemik. “Nasabah mereka akan memaksa mencairkan SBN-nya terhadap bank. Maka bank tidak bisa tidak—harus memenuhi permintaan itu. Akibatnya, bank-bank yang menjadi nasabah Bank Indonesia juga akan ikut mencairkan SBN mereka. Dalam kondisi seperti ini, yang di-rush sebenarnya adalah Bank Indonesia sendiri,” jelasnya.
Andri memperkirakan, jika gejala ini meledak, potensi pencairan surat berharga bisa mencapai Rp5.000 triliun. “Ini karena ulah BI yang merusak sistem perbankan di bank sentral dengan menciptakan bank di dalam bank. Dampaknya, bank-bank kehilangan kepercayaan, BI kehilangan kredibilitas di mata dunia, dan efek domino-nya bisa menghantam bank-bank sentral lain,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah perlu segera bertindak. “Saya minta Presiden Prabowo membentuk tim audit independen terhadap Bank Indonesia, melibatkan BPK dan akademisi ekonomi. Jangan tunggu sampai krisis meledak. Ini masalah kepercayaan dan kedaulatan moneter bangsa,” seru Andri.
Menurutnya, langkah transparan adalah satu-satunya cara untuk memulihkan kepercayaan. “Kalau BI bersih, audit akan membuktikannya. Tapi kalau tidak, rakyat berhak tahu siapa yang bermain di balik sistem yang merusak stabilitas ekonomi negara,” tutup Andri dengan nada tegas.
- Penulis: TCON
