Breaking News
Beranda » Oase » Lift: Teror Psikologis Tanpa Mistis, Ujian Keberanian Sinema Indonesia di Ruang Sempit

Lift: Teror Psikologis Tanpa Mistis, Ujian Keberanian Sinema Indonesia di Ruang Sempit

  • account_circle Beng Aryanto
  • calendar_month Rab, 4 Feb 2026

Di tengah arus film Indonesia yang masih gemar menjual teror mistik sebagai jalan pintas menuju pasar, Lift datang membawa kegelisahan berbeda. 

Film yang dijadwalkan tayang pada 26 Februari ini justru menolak dikotakkan sebagai film teror konvensional. Menariknya, pendekatan berbeda tersebut tidak hanya mendapat perhatian di dalam negeri, tetapi juga mulai memperoleh pengakuan di ranah festival internasional. 

 

Lift tercatat masuk dalam sejumlah seleksi dan nominasi bergengsi, antara lain Official Selection Dubai City Film Festival 2025, serta meraih nominasi Best Horror/Thriller Feature, Best Director, Best Screenplay, dan Best Cinematography di Los Angeles Fantasy Fest 2025. Film ini juga masuk Official Selection AME International Film Festival 2026, serta memperoleh nominasi Best Feature Film, Best Director Feature Film, dan Best Cinematography di The North Film Festival Barcelona 2026.

Capaian tersebut memberi konteks bahwa Lift bukan sekadar eksperimen lokal, melainkan karya yang turut dibaca dalam percakapan sinema global.

Sineas senior Ari Ibnu Hajar dengan tegas menyebut Lift sebagai drama action thriller, bukan film teror sebagaimana lazimnya film ruang terbatas dengan bahasa mistis. Pembedaan ini bukan soal istilah semata.

Ia menyentuh persoalan mendasar dalam literasi perfilman nasional: kecenderungan menyederhanakan ketegangan menjadi hantu, dan teror menjadi sekadar kejutan visual.

“Sementara Lift hadir dengan setting dan penggarapan yang menawarkan adegan teror berbeda—lebih jeli, cermat, dan berani,” ungkap Ari Ibnu Hajar dalam wawancaranya via sambungan telepon (4/2/2026).

Teror sebagai Situasi, Bukan Sebagai Makhluk

Menurut Ari, teror dalam Lift lahir dari kondisi manusia yang terjebak dalam situasi ekstrem—ruang sempit, tekanan waktu, konflik kepentingan, dan pilihan-pilihan yang mendesak. Tidak ada dunia gaib, tidak ada entitas supranatural. Yang ada hanyalah manusia dan situasinya.

Pendekatan ini menempatkan Lift sejajar dengan tradisi thriller psikologis dan action thriller global, di mana ketegangan dibangun melalui eskalasi konflik dan atmosfer, bukan lewat efek kejut instan. 

Di titik ini, Lift sesungguhnya sedang mengajukan kritik diam-diam terhadap kebiasaan sinema nasional yang kerap menyamakan teror dengan mistisisme.

Ruang Terbatas sebagai Taruhan Estetika

Sekitar 60 persen adegan berlangsung di dalam lift, sisanya tetap berada dalam ruang tertutup seperti kantor dan ruang operator. 

“Pilihan ini bukan sekadar gaya, melainkan taruhan estetika sekaligus risiko besar,” ujar Ari . 

Film dengan set terbatas menuntut presisi tinggi: penyutradaraan aktor, komposisi kamera, ritme dialog, hingga tempo dramatik harus bekerja nyaris tanpa celah. 

Dalam wawancara, Ari menyebut pendekatan ini sebagai pekerjaan rumah yang berat—dan pernyataan itu bukan berlebihan.

Dalam konteks film Indonesia, eksplorasi ruang sempit sebagai sumber ketegangan masih relatif jarang. Karena itu, Lift lebih tepat dibaca sebagai eksperimen naratif ketimbang tontonan aman.

Bayang-Bayang Mantan Produser The Raid

Nama mantan produser The Raid 1 dan The Raid 2 yang melekat pada Lift dengan sendirinya membentuk ekspektasi publik. Wajar jika penonton berharap pada detail koreografi aksi, presisi kamera, dan intensitas fisik yang pernah menjadi ciri khas film-film tersebut.

Ari mengakui adanya jejak teknis yang terasa—terutama pada detail pengambilan gambar dan cara adegan fisik diarahkan. 

Namun ia juga menegaskan perbedaannya: Lift tidak bermain pada skala kolosal ala The Raid, melainkan pada detail, tekanan, dan intensitas personal.

Di sinilah tantangannya: apakah film ini mampu berdiri sebagai karya otonom, atau justru akan terus dibaca dalam bayang-bayang reputasi masa lalu para pendukungnya.

Trailer, Ilusi, dan Kewaspadaan Menonton

Sebagai sineas, Ari bersikap jujur soal keterbatasan trailer sebagai alat penilaian.

“Trailer adalah iklan—ia dirancang untuk menggoda, bukan untuk mewakili keseluruhan film,”ujar Ari. 

Musik yang menghentak, potongan adegan cepat, dan intensitas tinggi bisa menciptakan ekspektasi yang belum tentu selaras dengan pengalaman menonton utuh.

Peringatan ini penting, terutama di era ketika film kerap “menang” di trailer tetapi kalah di layar.

Kontribusi atau Sekadar Keberanian?

Pertanyaan krusialnya bukan hanya apakah Lift menegangkan, melainkan apakah ia berhasil memperluas horizon sinema Indonesia. 

Dengan menempatkan teror sebagai hasil relasi manusia dan situasi, film ini berpotensi memperkaya wacana genre—jika dieksekusi dengan konsisten hingga akhir.

Setidaknya, Lift menunjukkan satu hal penting: ada keberanian untuk keluar dari pakem. 

Dalam industri yang sering bermain aman, keberanian semacam ini sudah layak dicatat, meski tetap harus diuji secara artistik dan komersial oleh penonton.

Lift bukan film yang bisa dinilai hanya dari label genre atau nama besar di belakangnya. 

Ia adalah taruhan: pada ruang sempit, pada ketegangan non-mistis, dan pada kecerdasan penonton.

Apakah taruhan itu akan berbuah kemenangan atau sekadar menjadi eksperimen yang menarik, jawabannya akan ditentukan ketika lampu bioskop padam.

Satu hal pasti—Lift menantang kebiasaan lama sinema Indonesia dalam memaknai teror. Dan itu, dalam dirinya sendiri, sudah merupakan sebuah pernyataan.

  • Penulis: Beng Aryanto
  • Editor: TCON

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dr Song Hyung Min dan Pasien Sepakat Perdamaian, Case Closed

    Dr Song Hyung Min dan Pasien Sepakat Perdamaian, Case Closed

    • calendar_month Sel, 16 Des 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Jakarta — Polemik pemberitaan terkait tudingan malpraktik terhadap Dr. Song Hyung Min akhirnya berakhir damai. Dr. Song dan pasien berinisial EV mencapai kesepakatan perdamaian dalam pertemuan klarifikasi yang digelar di Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025). Kesepakatan damai tersebut dicapai setelah kedua belah pihak melakukan klarifikasi secara langsung, dengan didampingi masing-masing kuasa hukum. […]

  • Polri di Bawah Kementerian Melemahkan Negara

    Polri di Bawah Kementerian Melemahkan Negara

    • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
    • account_circle Ival
    • 0Komentar

    Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan institusi Polri tetap di bawah Presiden. Menempatkan Polri di bawah kementerian sama artinya melemahkan negara.  Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan hal tersebut dalam rapat dengan Komisi III DPR-RI di Senayan, Senin (26/1). Mengawali penjelasannya Kapolri menegaskan sikap institusional Polri terkait posisi kelembagaan. Ia menyampaikan secara terbuka di hadapan […]

  • Prof Djohermansyah Kritik Gaya Hedon Pejabat

    Prof Djohermansyah Kritik Gaya Hedon Pejabat

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2026
    • account_circle Beng Aryanto
    • 0Komentar

    Jakarta – Perdebatan mengenai gaya hedon pejabat publik kembali mengemuka. Pengadaan meja biliar di lingkungan pimpinan DPRD, acara berbuka puasa bergaya “bollywood” di hotel mewah dengan tema glamor, hingga pembelian kendaraan dinas yang harganya selangit. Pertanyaan mendasar: untuk siapa sebenarnya jabatan publik diabdikan? Bagi Guru Besar IPDN dan pakar otonomi daerah Prof. Djohermansyah Djohan, fenomena tersebut […]

  • Investigasi: Pemerintah Dimenangkan dengan Putusan Palsu

    Investigasi: Pemerintah Dimenangkan dengan Putusan Palsu

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Ini skandal kasasi palsu.  Ini ujian nyata Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.  Ada sesuatu yang membuat publik emosi dalam kasus Bank Centris Internasional. Bukan sekadar ganjil—melainkan berbahaya. Karena untuk pertama kalinya, publik dihadapkan situasi paling ekstrem dalam sistem hukum: Seseorang dikalahkan di pengadilan bukan oleh fakta, bukan oleh hukum—tetapi oleh putusan yang sesungguhnya tidak pernah ada. […]

  • Praktik Maladministrasi Negara, Harta Warga Disita dan Dilelang

    Praktik Maladministrasi Negara, Harta Warga Disita dan Dilelang

    • calendar_month Ming, 25 Jan 2026
    • account_circle Ival
    • 0Komentar

    Kisah penyitaan harta pribadi Andri Tedjadharma berdasarkan surat keliru Kemenkeu. Tanpa putusan pengadilan yang sah, DJKN dan KPKNL disebut melakukan malpraktik administrasi negara. Simak fakta lengkapnya. Jakarta — Andri Tedjadharma dengan tegas menyebut adanya malpraktik administrasi negara yang serius dan berlarut-larut yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), dan […]

  • Tidak Berutang Tapi Ditagih dan Disita Harta Pribadi, Maruarar: Gimana Kalau Begini?

    Tidak Berutang Tapi Ditagih dan Disita Harta Pribadi, Maruarar: Gimana Kalau Begini?

    • calendar_month Kam, 29 Mei 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Maruarar Siahaan, mantan Hakim Konstitusi periode 2003-2008, tensinya agak naik ketika menjadi saksi ahli di uji materi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 49 Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), ketika mengetahui adanya salinan kasasi yang tidak terdaftar di Mahkamah Agung, digunakan sebagai dasar menagih dan menyita harta pribadi pemohon uji materi, Andri Tedjadharma. […]

expand_less