Pramono Anung Disorot soal Modifikasi Cuaca, DPRD dan CBA Nilai Tak Efektif serta Bermasalah Anggaran
- account_circle Ival
- calendar_month Kam, 29 Jan 2026

Jakarta — Kebijakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijalankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menuai sorotan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut masih ada pihak-pihak yang tidak sepakat dengan pelaksanaan OMC sebagai bagian dari penanganan banjir, bahkan ia menilai ada kesan sebagian pihak justru “senang” ketika Jakarta dilanda banjir.
OMC disebut Pemprov DKI sebagai langkah mitigasi untuk menekan intensitas hujan ekstrem saat potensi banjir meningkat. Namun kebijakan tersebut mendapat kritik dari DPRD DKI Jakarta dan lembaga pemantau anggaran.
Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PAN, Lukmanul Hakim, menilai OMC tidak tepat sasaran dan berpotensi memboroskan anggaran daerah. Ia menyebut biaya modifikasi cuaca bisa mencapai Rp300 juta untuk sekali penerbangan.
“Ini kebijakan yang tidak efektif dan hanya menghambur-hamburkan uang,” ujar Lukmanul Hakim.
Kritik juga disampaikan Center for Budget Analisis (CBA). Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menyoroti pola pelaksanaan OMC yang dinilai bermasalah, khususnya terkait peran BPBD DKI Jakarta dan BMKG.
“Saya gemes sekali dengan BPBD dan BMKG. Masa setiap kali Pramono Anung mau menangani banjir dengan OMC harus dimonopoli oleh BMKG,” kata Uchok, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, pelaksanaan OMC yang dilakukan secara swakelola tanpa mekanisme lelang berpotensi melanggar aturan pengadaan barang dan jasa. Ia bahkan menduga adanya potensi tindak pidana korupsi.
“Ini pelanggaran berat, bahkan bisa diduga korupsi jika tidak dilelang oleh BPBD DKI Jakarta,” tegasnya.
Sebelumnya, CBA juga meminta Kejaksaan Agung untuk membuka penyelidikan atas pengelolaan anggaran OMC tahun 2025 yang dilaksanakan secara swakelola oleh BMKG.
Di sisi lain, efektivitas OMC kembali dipertanyakan setelah banjir tetap terjadi di sejumlah wilayah DKI Jakarta. Pada Kamis (29/1/2026), tercatat sebanyak 18 RT terendam banjir meskipun operasi modifikasi cuaca telah dilakukan.
Banjir tersebut dipicu meluapnya debit air Kali Ciliwung akibat kiriman air dari wilayah hulu, menyusul hujan deras yang mengguyur DKI Jakarta dan sekitarnya pada Rabu (28/1/2026).
Kondisi ini memperkuat perdebatan publik mengenai efektivitas OMC, transparansi penggunaan anggaran, serta perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan penanganan banjir di Jakarta.
- Penulis: Ival
- Editor: TCON
