Lift: Film Dari Festival Internasional ke Uji Pasar Bioskop Indonesia
- account_circle TCON
- calendar_month Sab, 14 Feb 2026

Film “Lift” akan tayang di Bioskop 26 Februari.
Jakarta — Di tengah dominasi horor-komedi dan film aksi formulaik, Lift hadir sebagai tantangan dalam membaca selera pasar.
Diputar perdana dalam press screening pada 13 Februari 2026 di Jakarta Theatre, Jalan Thamrin, film produksi Trois Films ini menawarkan sesuatu yang jarang disentuh sinema arus utama Indonesia: thriller psikologis dengan ruang terbatas sebagai arena utama.
Film yang akan tayang resmi pada 26 Februari 2026 ini tidak menjual spektakel besar. Sekitar 70 persen adegannya berlangsung di dalam lift. Ruang sempit itu bukan sekadar latar, melainkan medan psikologis—tempat rasa takut, ambisi, dan dendam saling bertabrakan.
Menariknya, sebelum rilis komersial, Lift telah lebih dulu beredar di sirkuit festival internasional. Film ini tercatat sebagai Official Selection di Dubai City Film Festival 2025, serta masuk sejumlah nominasi di Los Angeles Fantasy Fest 2025 untuk kategori Best Horror/Thriller Feature, Best Director, Best Screenplay, dan Best Cinematography.
Tak hanya itu, Lift juga menjadi Official Selection AME International Festival 2026, serta meraih nominasi Best Feature Film, Best Director Feature Film, dan Best Cinematography di The North Film Festival Barcelona 2026. Rekam jejak tersebut menjadi nilai jual sekaligus daya tarik bagi publik untuk menilai langsung kualitasnya saat tayang di bioskop.
Produser D. Ario Sagantoro—yang dikenal lewat keterlibatannya dalam Merantau, The Raid, dan The Raid 2—secara terbuka menyebut proyek ini sebagai tantangan pasar. Bukan tanpa alasan, thriller psikologis bukan genre yang mudah ditebak penerimaannya di Indonesia.
“Penonton Indonesia nggak ketebak. Yang lagi laku horor-komedi. Kita bukan main di situ. Ini lebih ke psychological drama-thriller. Kalau laku ya jackpot, kalau tidak ya setidaknya bisa produksi lagi,” ujarnya dalam wawancara usai media screening (13/2/2026).
Debut Sutradara dan Beban Ekspektasi
Lift menjadi debut penyutradaraan panjang Randy Chans. Ia mengakui proyek ini awalnya bukan sepenuhnya berada di tangannya. Situasi produksi membuatnya harus mengambil alih kursi sutradara—sebuah tanggung jawab yang ia sebut sebagai “beban berat”.
Alih-alih mengikuti pola aksi konvensional yang identik dengan jejak Ario, Randy memilih pendekatan berbeda. Ia menolak pertarungan koreografis bergaya martial art. Adegan perkelahian dibuat lebih natural—lebih menyerupai self-defense yang panik dan canggung.
Pendekatan ini tampak jelas pada karakter Linda yang diperankan Ismi Melinda. Biasanya identik dengan aksi fisik terlatih, kali ini ia diminta menghapus muscle memory-nya. Gerakan dibuat tidak elegan, napas pendek, tatapan panik—emosi menjadi pusat.
Randy menekankan pentingnya micro-expression. Kamera kerap menempel pada wajah, terutama pada karakter antagonis yang diperankan Shareefa Danish. Tatapan mata, gerak bibir, hingga ritme napas menjadi perangkat dramatik utama.
“Penonton harus merasa ikut terjebak,” kata Randy. “Bukan hanya melihat kekerasan, tapi merasakan sesaknya.”
Metafora Kekuasaan dalam Permainan Catur
Salah satu adegan paling konseptual adalah dialog panjang antara karakter Hansen dan pejabat Joko, yang berlangsung dalam setting permainan catur.
Adegan ini nyaris statis—dua orang duduk, berbicara, dan menggerakkan bidak. Namun justru di situlah eskalasi dibangun. Gerakan bidak disinkronkan dengan perubahan nada dialog. Ketika kalimat menyerang, bidak menyerang. Saat posisi terdesak, langkah melambat.
Properti catur berbahan kayu pun dimaknai sebagai simbol: pengusaha yang “mengukir” realitas sesuai ambisinya. Metafora relasi pengusaha dan penguasa, ambisi yang menginjak rakyat kecil, hingga permainan kekuasaan yang tak kasatmata, dibiarkan terbuka untuk interpretasi.
Film ini memang tidak menyebut diri sebagai film politik. Namun lapisan simboliknya sulit diabaikan.
Psikopat atau Persepsi?
Shareefa Danish, yang kembali memerankan karakter gelap, menanggapi label “psikopat” yang kerap dilekatkan pada perannya. Ia menolak reduksi tersebut.
Bagi Shareefa, tugas aktor adalah meyakinkan penonton, bukan menjadi karakter itu di kehidupan nyata. Jika penonton mempercayainya sebagai figur mengerikan, maka tugas aktingnya berhasil.
Pendekatan ini konsisten dengan visi film: ketegangan dibangun bukan lewat gore semata, melainkan sugesti dan permainan psikologis.
Catatan Kritis
Sebagai film yang sebagian besar berlangsung dalam ruang sempit, Lift menuntut disiplin detail yang tinggi. Ada beberapa momen ketika kontinuitas fisik—keringat, riasan, hingga perubahan ekspresi ekstrem—terasa belum sepenuhnya maksimal.
Dalam situasi terjebak berjam-jam, logika visual tentang tubuh yang kelelahan dan panik seharusnya lebih dominan.
Meski demikian, kekuatan film ini terletak pada keberaniannya menjaga intensitas dalam keterbatasan ruang. Eskalasi dibangun bertahap, dengan mini-klimaks sebelum mencapai puncak. Twist di akhir pun tidak mengikuti pola umum “pahlawan selamat”, melainkan memilih jalur yang lebih pahit dan tak sepenuhnya memberi kenyamanan.
Uji Coba yang Layak Ditonton
Dalam konteks sinema Indonesia, Lift adalah eksperimen yang patut dicatat. Ia bukan film aksi penuh ledakan, bukan pula horor mistik. Ia berdiri di wilayah thriller psikologis dengan bumbu aksi minimalis dan simbolisme kekuasaan.
Sebagai uji pasar terhadap genre yang jarang disentuh film lokal, Lift mungkin tidak menjanjikan angka fantastis secara instan. Namun ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: keberanian keluar dari zona aman industri, ditopang legitimasi dari pengakuan festival internasional.
Apakah publik akan menerima eksperimen ini? Jawabannya baru terlihat setelah 26 Februari 2026.
Namun satu hal jelas dari pemutaran media screening di Jakarta Theatre sore itu: Lift tidak dibuat untuk menjadi film biasa. Ia dibuat untuk menguji batas—batas ruang, batas emosi, dan batas selera penonton Indonesia.
- Penulis: TCON
