Breaking News
Beranda » Terkini » Prabowonomics: Dari Wacana ke Struktural

Prabowonomics: Dari Wacana ke Struktural

  • account_circle Ival
  • calendar_month Sab, 31 Jan 2026

Prabowonomics bergerak dari wacana ke struktur. Pergeseran di BEI, OJK, Kemenkeu, dan BI membuka kembali pertanyaan lama tentang kendali negara.

Mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mungkin tampak sebagai peristiwa teknis, dipicu gejolak pasar dan tekanan indeks. Namun jika diletakkan dalam rangkaian perubahan yang lebih luas—pergantian Menteri Keuangan, reposisi figur kunci ke Bank Indonesia, hingga pergeseran poros fiskal–moneter—peristiwa ini sulit dibaca sebagai kebetulan. Di sinilah Prabowonomics bergerak dari sekadar wacana politik menuju pembentukan struktur kekuasaan ekonomi yang nyata.

Mundurnya elite di simpul pasar modal terjadi beriringan dengan perubahan di pusat pengambilan keputusan ekonomi nasional. Ketika sektor yang selama ini relatif steril dari tekanan politik mulai mengalami pergeseran figur, pertanyaan publik bergeser dari siapa yang pergi ke apa yang sedang diubah. Pola ini menunjukkan bahwa negara tidak lagi sekadar mengawasi dari luar, melainkan mulai masuk ke pusat kendali.

Pola perubahan itu kian jelas ketika ditarik ke pergantian Menteri Keuangan. Masuknya Purbaya Yudhi Sadewa menggantikan Sri Mulyani bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan sinyal reposisi kendali kebijakan ekonomi. Pergantian ini terjadi dalam konteks politik yang sensitif, tak lama setelah penjarahan rumah Sri Mulyani dalam kerusuhan akhir Agustus 2025, peristiwa yang memunculkan pertanyaan tentang perlindungan elite negara. Dalam sistem dengan sensitivitas tinggi terhadap simbol kekuasaan fiskal, kelengahan semacam itu jarang berdiri sendiri.

Reposisi tersebut semakin nyata ketika Thomas Djiwandono melepas jabatan Wakil Menteri Keuangan dan masuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ini bukan promosi administratif, melainkan pergeseran poros kekuasaan dari fiskal ke moneter, dari kementerian ke bank sentral. Langkah ini menempatkan figur kunci langsung di jantung sistem yang selama puluhan tahun relatif otonom dan minim koreksi politik langsung.

Dalam kerangka Prabowonomics, rangkaian ini memberi makna yang tegas. Presiden Prabowo berulang kali mengingatkan bahwa negara tidak boleh kehilangan kendali, bahkan menyebut adanya praktik “negara dalam negara”. Di sektor keuangan, peringatan itu menemukan konteksnya: otoritas yang terlalu otonom, jaringan lama yang tertutup dari koreksi, dan warisan krisis 1998 yang tak pernah benar-benar dibuka ke publik.

Di titik inilah kasus BLBI—khususnya Bank Centris Internasional—kembali relevan. Bukan sebagai perkara lama yang diungkit ulang, melainkan sebagai ilustrasi kegagalan koreksi sistemik. Andri Tedjadharma menegaskan, “Kasus Bank Centris Internasional adalah praktik bank di dalam bank di Bank Indonesia.” Ia menyebut adanya dua entitas Centris, “salah satunya direkayasa sekelompok oknum di BI untuk mengalirkan dana Bank Indonesia melalui jaringan perbankan lain.”

Lebih jauh, Andri mengingatkan bahwa Bank Centris yang dibekukan sejak 1998 itu disinyalir tetap beroperasi secara senyap hingga statusnya meningkat menjadi bank devisa. “Selama kasus seperti ini tidak dibuka tuntas, stabilitas negara dan pemerintahan mana pun akan selalu berada dalam risiko,” ujarnya.

Pernyataan itu menempatkan Bank Centris bukan sebagai anomali, melainkan sebagai cermin rapuhnya mekanisme pengawasan dan akuntabilitas di pusat sistem moneter.
Jika dirangkai utuh—mundurnya elite BEI dan OJK, pergantian Menteri Keuangan, serta reposisi figur kunci di Bank Indonesia—terlihat satu garis konsisten: Prabowonomics bergerak dari retorika ke struktur. Negara tidak lagi cukup mengandalkan regulasi dari luar, melainkan mulai menyentuh simpul-simpul kendali yang selama puluhan tahun relatif kebal dari koreksi.

Sejarah krisis 1998 mengajarkan bahwa kerentanan sistem keuangan bukan semata persoalan angka, melainkan soal kedaulatan dan keberanian negara mengoreksi dirinya sendiri.

Namun, perubahan hari ini baru akan bermakna jika berujung pada pembukaan simpul-simpul lama yang selama ini dibiarkan aman dari pemeriksaan publik. Di titik inilah kasus Bank Centris Internasional menjadi batu uji. Bukan karena masa lalunya, melainkan karena masa depannya: apakah negara benar-benar berani menuntaskan warisan yang tak pernah diselesaikan, atau kembali membiarkannya terkunci dalam sunyi? Publik menunggu.

Foto: ilustrasi

  • Penulis: Ival
  • Editor: TCON

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jabar Kasih Ampunan, DKI Beri Ancaman

    Jabar Kasih Ampunan, DKI Beri Ancaman

    • calendar_month Ming, 27 Apr 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan kebijakan pengampunan pajak kendaraan bermotor. Kebijakan ini langsung disambut gembira masyarakat Jabar. Kebijakan Dedi ini pun diikuti beberapa daerah lain, seperti Banten. Tapi, beda halnya dengan DKI Jakarta. Gubernur Pramono Anung enggan memberikan pengampunan. Bahkan mengeluarkan ancaman akan mengejar penunggak pajak. cek di SINI..  

  • CBA Soroti Anggaran Paskibraka DKI, Dinilai Gemuk dan Bau Tak Sedap

    CBA Soroti Anggaran Paskibraka DKI, Dinilai Gemuk dan Bau Tak Sedap

    • calendar_month Sen, 13 Apr 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    CBA soroti anggaran Paskibraka Jakarta. Dinilai “gemuk* dan bau tak sedap. CBA meminta Kejati turun tangan ‎jakarta – Sorotan tajam diarahkan pada anggaran Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di DKI Jakarta. Center for Budget Analysis (CBA) menilai anggaran tersebut terlalu besar dan patut dicurigai. ‎Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, mengungkapkan bahwa anggaran Paskibraka DKI Jakarta […]

  • Tutut Soeharto Digadang Gantikan Ketum Bahlil

    Tutut Soeharto Digadang Gantikan Ketum Bahlil

    • calendar_month Sen, 25 Agu 2025
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Poros Muda Golkar Indonesia mendorong perubahan. Usung Tutut Soeharto menjadi Ketum Golkar gantikan Bahlil.  Jakarta – Dinamika internal Partai Golkar kembali memanas. Sebuah arus baru muncul dari dalam tubuh partai berlambang pohon beringin: Poros Muda Golkar Indonesia secara terbuka menyatakan dukungan kepada Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto untuk menduduki kursi Ketua Umum, menggantikan Bahlil […]

  • Jose Rizal Raih Doktor Cumlaude UI, Tawarkan Konsep Neo-Weberian Digital untuk Birokrasi Daerah

    Jose Rizal Raih Doktor Cumlaude UI, Tawarkan Konsep Neo-Weberian Digital untuk Birokrasi Daerah

    • calendar_month Kam, 8 Jan 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Depok — Jose Rizal resmi meraih gelar Doktor Sosiologi Universitas Indonesia (UI) dengan predikat cumlaude setelah mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor yang digelar di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok, Rabu (7/1/2026). Jose menjadi Doktor Sosiologi UI ke-143 melalui disertasi berjudul “Transformasi Arena Birokrasi di Era Digital: Aktor, Struktur, dan Habitus dalam Jakarta Smart […]

  • Jokowi, Prabowo dan Skenario Gus Dur: Kisah yang Hidup di Masyarakat

    Jokowi, Prabowo dan Skenario Gus Dur: Kisah yang Hidup di Masyarakat

    • calendar_month Ming, 29 Jun 2025
    • account_circle Ival
    • 0Komentar

    Politik Indonesia kerap ibarat panggung wayang: para tokoh tampak bergerak bebas, namun ada tangan-tangan halus yang menggerakkan mereka. Tak semua dalang tampak, tak semua cerita bisa dibaca langsung. Namun, jejak-jejak itu tersisa. Di antara dalang besar itu, nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tak pernah lenyap dari ingatan. Almarhum (alm) Presiden ke-4 RI ini bukan […]

  • Investigasi: Pemerintah Dimenangkan dengan Putusan Palsu

    Investigasi: Pemerintah Dimenangkan dengan Putusan Palsu

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2026
    • account_circle TCON
    • 0Komentar

    Ini skandal kasasi palsu.  Ini ujian nyata Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.  Ada sesuatu yang membuat publik emosi dalam kasus Bank Centris Internasional. Bukan sekadar ganjil—melainkan berbahaya. Karena untuk pertama kalinya, publik dihadapkan situasi paling ekstrem dalam sistem hukum: Seseorang dikalahkan di pengadilan bukan oleh fakta, bukan oleh hukum—tetapi oleh putusan yang sesungguhnya tidak pernah ada. […]

expand_less