Erich Folanda, Putra Betawi yang Bersahaja Diamanahkan Jabatan Strategis Pidana Khusus
- account_circle TCON
- calendar_month Kam, 23 Jul 2026

JAKARTA – Rotasi pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung kembali menghadirkan satu nama yang menyita perhatian, Erich Folanda, S.H., M.Hum.
Belum genap tiga bulan mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Erich kini dipercaya menempati jabatan strategis di Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), pusat penanganan perkara-perkara besar dan berprofil tinggi di Indonesia.
Penempatan tersebut dipandang sebagai bentuk kepercayaan penuh pimpinan Kejaksaan Agung terhadap rekam jejak, integritas, dan kapasitasnya dalam menangani perkara tindak pidana khusus. Sebelumnya, Erich juga pernah menjabat sebagai Koordinator pada Jampidsus, sehingga lingkungan kerja tersebut bukanlah medan baru baginya.
Yang membuat kiprah Erich semakin menarik adalah latar belakangnya sebagai putra Betawi. Di tengah dominasi berbagai daerah dalam jajaran pimpinan Aparat Penegak Hukum (APH), Erich dinilai menjadi salah satu representasi keberhasilan putra asli Betawi yang mampu menembus posisi-posisi strategis di tingkat nasional. Kehadirannya menjadi simbol bahwa masyarakat Betawi juga memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing dan memimpin di institusi penegakan hukum tertinggi.
Perjalanan hidupnya berakar kuat di Jakarta. Erich merupakan alumnus SMP Negeri 41 Jakarta Selatan dan SMA Negeri 38 Jakarta Selatan, sebelum melanjutkan pendidikan hukum hingga meraih gelar Magister Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad). Jejak pendidikan tersebut menjadi fondasi yang mengantarkannya meniti karier secara konsisten di Korps Adhyaksa.
Di setiap penugasan, Erich dikenal sebagai sosok yang tenang, komunikatif, dan berorientasi pada hasil. Ia mengedepankan profesionalisme, ketelitian dalam pembuktian perkara, serta koordinasi yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan. Saat bertugas di daerah, ia juga aktif mendorong penguatan literasi hukum, pembangunan paralegal, serta pendidikan antikorupsi sebagai bagian dari upaya membangun budaya hukum yang sehat.
Bagi masyarakat Betawi, kiprah Erich Folanda memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar promosi jabatan. Ia menjadi inspirasi bahwa putra daerah dapat mencapai puncak karier melalui dedikasi, kompetensi, dan integritas, tanpa meninggalkan akar budaya yang menjunjung tinggi amanah, keterbukaan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Kembalinya Erich ke Jampidsus juga hadir pada momentum ketika publik menaruh harapan besar terhadap pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang profesional. Pengalaman bertugas di pusat maupun di daerah menjadi modal penting untuk memperkuat kinerja institusi dalam menangani perkara-perkara strategis yang menjadi perhatian masyarakat.
Bagi Korps Adhyaksa, rotasi ini merupakan bagian dari penyegaran organisasi. Namun bagi masyarakat Betawi, penugasan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri—sebuah pengakuan bahwa putra Betawi mampu berdiri di garis depan penegakan hukum nasional dan ikut menentukan arah pemberantasan korupsi di Indonesia.
- Penulis: TCON
